KELOLA SAMPAH PENDAKIANMU


Pandemi menyerang semua lini kehidupan, termasuk kegiatan wisata alam. Bulan April 2020, KLHK menutup seluruh Taman Nasional, Taman Wisata Alam dan Suaka Margasatwa dari kunjungan wisatawan untuk menghindari penyebaran virus corona. Jalur-jalur pendakian gunung yang dikelola oleh masyarakat seperti Gunung Lawu, Gunung Sumbing dan Gunung Prau juga mengikuti langkah penutupan jalur.

Bulan Agustus 2020, beberapa jalur pendakian gunung kembali dibuka setelah penutupan akibat pandemi yang melanda dunia. Bak singa yang tak makan selama 4 bulan, penggiat alam bebas segera menyerbu jalur – jalur pendakian yang dibuka kembali. Mudah ditebak, pengunjung wisata pendakian pun membludak. Lawu yang menjadi salah satu jalur yang dibuka pertama pun menjadi viral. Protokol pendakian di masa new normal seakan hanya menjadi himbauan belaka. Pembukaan jalur pendakian ini tentu dibarengi dengan masalah klasik pendakian, yaitu meningkatnya timbulan sampah. Setelah empat bulan jalur pendakian bisa berelaksasi, alam kembali harus menerima tekanan dari manusia berupa sampah.

Masalah sampah adalah masalah klasik. Permasalahan ini tak hanya dijumpai dalam dunia pendakian Indonesia. Sampah menjadi masalah dalam kehidupan sehari-hari bangsa ini. Hasil  penelitian Jemma jamback et al tahun 2014 memperlihatkan Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua di dunia. Itu baru sampah plastik, belum sampah lainnya. Di Indonesia sendiri Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) didominasi oleh sampah organik yang tidak diolah. Mengacu pada data Bappenas tahun 2016, sampah yang belum dikelola di Indonesia mencapai 62% untuk skala nasional dan 32% untuk skala perkotaan.

Negara Penyumbang Sampah Plastik di Lautan

Kondisi ini dipengaruhi oleh bebagai faktor, mulai dari prilaku masyarakat, tata kelola persampahan, serta aspek ekonomi dan kelembagaan. Hal yang sama juga dijumpai pada jalur pendakian di Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di delapan Taman Nasional dan Gunung, terdapat 435 ton sampah milik pengunjung dalam dimana 250 ton merupakan sampah plastik. Sampah ini dihasilkan oleh 150.688 orang pendaki/tahun yang datang ke gunung  Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman nasional gununng Rinjani, Taman Nasional Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Merbabu, Taman Nasional Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Argopuro dan Gunung Prau.

Data terkait sampah juga  dapat dilihat dari penelitian mengenai sampah di jalur pendakian.  Penelitian sampah pada Jalur Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng yang dilakukan oleh Tomi Asy’arie tahun 2018 memperlihatkan Jalur Pendakian Patak Banteng menghasilkan timbulan sampah rata-rata 97,373 kg/hari (0,555 kg/orang/hari). Timbulan sampah didominasi oleh sampah plastik (44%) dan diikuti dengan sampah organik (34%). Penelitian mengenai sampah pendakian juga pernah dilakukan di Jalur Pendakian Merbabu via Selo. Penelitian yang dilakukan oleh Farid Harza Tahun  2018 menemukan bahwa timbulan sampah yang dihasilkan di Jalur pendakian Gunung Merbabu via selo berkisar 0,21 -0,23 kg/orang/hari dengan volume berkisar 0,007-0,008 m3/orang/hari. Sampah plastik kembali menjadi sampah terbanyak yang dijumpai yaitu sebesar 34% dan diikuti oleh sampah kertas (22%). Penelitian sejenis yang dilakukan di Jalur Pendakian Gunung Andong via Dusun Gunung Sawit via jalur oleh M. Ilham Abdurrahim tahun 2018 juga memperlihatkan karakter yang serupa. Timbulan sampah yang dihasilkan di Jalur pendakian Gunung Andong via dukuh Sawit bekisar 0,108 – 0,154 kg/orang/hari dengan komposisi terbanyak berupa sampah plastik (33,7%). Data terkait sampah di gunung indonesia juga dapat dilihat pada laporan pertanggungjawaban operasi Sapu Jagat 2019 yang dilakukan oleh Trash Bag Community. Berdasarkan hasil riset komunitas tersebut selama tiga tahun, pendaki berpoten smenyumbang 5 ons ( ± 0,142 kg ) sampah baru masuk ke dalam kawasan konservasi/gunung. Komposisi sampah terbesar adalah sampah plastik sebesar 43%.

Taman Nasional Gunung Rinjani melalui akun IG-nya mempublikasikan hasil dari operasi Clean Up Rinjani. Operasi Clean Up 2020 hingga bulan November berhasil mengumpulkan 326,2 kg sampah. Ini adalah sampah yang tidak dibawa turun pendaki. Jika melihat data total sampah yang dihasilkan pada tahun 2020 sebesar 1.192,5 kg, maka sampah hasil operasi clean up mencapai 27,3 % dari sampah total pendakian, jumlah yang cukup besar. Komposisi sampah pendakian Rinjani hasil operasi clean up memiliki karakteristik cukup berbeda dimana sampah kaca menjadi sampah paling dominan.


Banyaknya sampah yang dihasilkan pada lokasi jalur pendakian dipengaruhi oleh karakteristik medan dan pola pendakian. Prau dan Andong memiliki durasi pendakian yang singkat namun sampah yang dihasilkan tidak berbeda jauh dengan gunung lainnya. Hal ini dikarenakan rata-rata pendaki melakukan pendakian dua hari satu malam. Mereke berkemah di gunung dengan logistik yang sama banyaknya seperti logistik pendakian dengan waktu tempuh ke puncak di atas enam jam. Pola pendakian dayhike/satu hari pendakian atau sering dikenal dengan istilah tektok lebih sedikit memerlukan logistik sehingga sampah yang dihasilkan pun minim. Tak ada makan besar sehingga tidak perlu membawa berbagai bahan makanan. Namun, pendaki di Indonesia pada umumnya lebih meyukai pola pendakian berkemah meskipun pada gunung yang durasi pendakian ke puncaknya di bawah tiga jam. Berkemah sembari menunggu summit attack esok harinya menjadi pilihan favorit.

Perilaku membuang sampah pendaki dapat dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari pendaki. Bila menilik data  yang dihimpun oleh lokadata, prilaku pengelolaan sampah dengan membuang sampah di tempat sampah masih berada di peringkat kedua. Peringkat pertama masih didominasi oleh dibakar dan ditimbun.  Data Potensi Desa (PODES) 2018 memperlihatkan 66% desa di Indonesia menyingkirkan sampah dengan cara membakar atau membenamkannya dalam lobang di tanah. Sisanya, 15% membuang sampah pada tempatnya, dan 12% melemparkannya ke sungai atau saluran air.  Membakar sampah sebenarnya bisa dilakukan dengan aman, dengan syarat: ada proses seleksi dan penguraian sehingga polutan dan senyawa berbahaya tidak ikut terlepas ke udara. Anton Tri Sugiarto, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, misalnya, berhasil mengembangkan inovasi insinerator plasma. Sebelum dibakar, sampah terlebih dahulu dipilah. Yang dibakar hanya sampah yang tak mungkin dimanfaatkan ulang.


Lalu apakah mereka yang berasal dari 15% daerah yang membuang sampah di tempat sampah selalu membawa prilaku tersebut ke gunung? sepertinya tidak sepenuhnya. Merujuk data yang diolah oleh Lokadata, warga kota besar cenderung membuang sampah pada tempatnya. Bila kita melihat gunung-gunung yang berada di dekat kota-kota besar, sepertinya prilaku tersebut tidak terbawa. Hal ini bisa disebabkan karena oleh regulasi. Di kota, orang dipaksa membuang sampah pada tempatnya karena keterbatasan lahan untuk membakar/menimbun dan juga adanya aturan dan hukum yang mengikat. Di jalur  pendakian, seringkali tidak ada ketegasan dalam penindakan pelanggaran terkait sampah. Padahal aturan dan tata tertib sampah sudah jelas tertera pada basecamp.

Dalam pengelolaan sampah terdapat suatu hierarki yang memperlihatkan kondisi ideal alternatif upaya pengelolaan.  Tujuan utama hierarki sampah adalah untuk memanfaatkan produk sebesar-besarnya dan menghasilkan sampah yang sesedikit mungkin, karena pencegahan sampah adalah titik tertinggi dari piramida hierarki sampah.

Pencegahan/pengurangan sumber sampah (Source Reduction) berada pada hierarki tertinggi. Pengelolaan sampah dilakukan dengan sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang pergunakan. Semakin sedikit material yang digunakan semakin sedikit sampah yang dihasilkan. Pada kegiatan pendakian, cara ini dapat dilakukan dengan melakukan perencanaan logistik. Sampah dari makanan menjadi salah satu sumber sampah terbesar (plastik sisa pembungkus, bahan makanan sisa yang tidak dimakan, sisa makanan yang tidak habis). Pengurangan sampah makanan dapat dilakukan dengan membuat logistik siap makan (ready to eat) sendiri dari rumah dan menggunakan wadah sendiri. Pengelola juga dapat berperan dengan menyediakan makanan siap makan yang dibungkus dengan bahan yang ramah lingkungan sebagai opsi logistik pedaki yang bisa dibeli di basecamp.

Pada tingkat kedua adalah penggunaan kembali (Reuse). Pengelolaan sampah dilakukan dengan sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum menjadi sampah. mengganti botol plastik mineral dengan wadah reuseable/dapat dipakai berkali-kali (tumbler, water bladder/hydropack, jerigen)

Pada tingkat yang ketiga adalah daur ulang (recycle). Pengelolaan sampah dilakukan dengan mendaur ulang barang/material yang tidak terpakai lagi. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain. Pendaki bisa mengumpulkan sampah yang dapat didaurulang dan diserahkan kepada pengepul. Cara praktis yang dapat dilakukan adalah pihak Basecamp bekerjasama dengan pengepul sampah daurulang atau membangun membuat sistem pengelolaan sampah TPS3R.
Pada tingkat berikutnya adalah pemulihan energi/material. Pengelolaan dilakukan dengan mengubah timbulan sampah yang ada menjadi sumber energi terbarui, Pemanfaatan sampah menjadi energi umumnya dilakukan dengan metode insinerasi yaitu pemanasan pada tungku dengan memanfaatkan sampah sebagai bahan bakunya. Panas yang dihasilkan akan digunakan untuk memanaskan air dan juga akan menghasilkan uap panas yang digunakan untuk menggerakkan turbin dan generator listrik. Pengelolaan ini memang membutuhkan biaya yang cukup besar sehingga sulit diterapkan dalam skala yang kecil.

Tingkat selanjutnya adalah pembakaran sampah (inceneration). pengelolaan ini berbeda dengan pembakaran sampah untuk menghasilkan energi. pada tingkatan ini sampah hanya dibakar dan menjadi residu. Pembakaran sampah yang baik apabila dilakukan pada tungku pembakaran sehingga memaksimalkan proses pembakaran. dan tidak menghasilkan gas yang berbahaya. Hal ini jamak ditemukan terutama di luar perkotaan. Namun pembakaran yang ada umumnya masih sederhana, atau bahkan dibakar di tempat terbuka.

Pilihan yang terakhir adalah dengan melakukan pembuangan secara terkontrol (sanitary landfill), artinya limbah yang dihasilkan ditimbun dalam tempat dengan lapisan khusus sehingga tidak menimbulkan pencemaran bagi air tanah. Metode yang sering dijumpai, baik dalam skala terkecil (rumah tangga) maupun skala pengelolaan sampah regional. Meteode ini bila tidak diimbangi dengan pengelolaan sampah lainnya bukanlah solusi. Pada saat tulisan ini dibuat (Desember 2020), Kawasan Perkotaan Yogyakarta baru saja menghadapi darurat sampah ketika TPST Piyungan yang menjadi lokasi pembuangan secara terkontrol diblokade warga karena sampah yang membludak dan air lindi yang merembes di permukiman warga.

Mengelola sampah sejak dini memang bukan hal yang mudah. Dibutuhkan kedisplinan dan konsistensi untuk menjadi kebiasaan baik dalam kehidupan sehari hari maupun kegiatan pendakian. hingga kini saya pun masih belum berhasil menhgurangi sampah domestik di rumah sendiri, Membawa tas sendiri untuk belanja persoalaan yang mudah, namun dispilin mengurangi konsumsi produk-produk yang memiliki kemasan plastik, mengolah sampah organik dapur menjadi kompos menjadi tantangan tersendiri. pun begitu dalam dunia pendakian. Tidak cukup dengan “bawa turun sampahmu” tapi perlu “kelola sampahmu”. Sulit memang tapi patut dicoba, demi lingkungan yang lebih baik.

-akuntomo-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s