Sampah dan Pendakian Kerinci di mata Endatno, Pemandu Profesional Kerinci.


Ada pengalaman menarik ketika mendaki Gunung Kerinci pada Bulan Juli 2017. Di shelter bayangan 2, selepas mendirikan tenda, tiba-tiba ada pemandu yang mengajak kelompok pendaki (saat itu ada 3 kelompok) untuk melakukan aksi bersih-bersih pos selama 5 menit. Pemandu tersebut adalah Endatno, seorang pemandu pendakian Gunung Kerinci. Belakangan baru aku ketahui kalau Mas Een ini manjadi pemandu paling direkomendasikan di trip advisor oleh pendaki mancanegara. Tertarik atas inisiatifnya, aku kemudian berbincang-bincang dengan Mas Endatno. Kira-kira beginilah perbincangan singkat kami.

Mas Endatno (Een)

Apa yang melatarbelakangi Mas Een untuk mengajak kelompok lain bersih-bersih Shelter?

Untuk masalah yang paling sensitif ya masalah sampah, karena pengalaman saya memandu tamu dan terkadang beberapa teman komunitas di Kersik Tuo menularkan kebiasaan seperti membawa sampah turun setelah acara kemping. Ternyata memang tidak semudah itu. Karena pengalaman saya di Gunung Talang, itu pendakinya hampir 2.000 orang, tapi relatif bersih lah. Kalau di Kerinci pendakinya 200 orang tapi kayak pasar. Ternyata memang sistem pengawasan yang perlu. Saya liat di sana itu ranger-nya kan yang naik ke atas. Jadi setelah mendaki, utamanya di camping ground itu, begitu mereka mau cheking pulang itu diantisipasi dengan memberi pesan, “tolong sampahnya dibawa turun”. Jadi mereka memang mengontrol seperti itu sehingga relatif lebih tertib. Kalau di Kerinci kan kendalanya ranger-nya nda naik, ya seperti itu. Jadi memang pengawasan kurang, terus kami pernah dua kali melakukan operasi bersih di sini. Tapi itu tadi, setelah itu sampah numpuk lagi. Ini merepotkan.

Pernah kita coba membawa sampah turun ke bawah, ke ladang, tetapi pak tani juga komplain ke kita, ini kenapa sampah dari dulu kok kita bawa turun, ternyata bukan solusi juga. Jadi sampai sekarang ya paling itu, untuk meminimalisir seperti ya para pendaki, timnya itu, minimal untuk masing-masing bawa turun (sampah), sembari nanti yang di sini itu kita keringkan, ya mungkin dibakar……….ya terus terang caranya ya dibakar, nda ada cara lain.”

Kalau yang di Gunung Talang itu pendakiannya tektok atau berkemah?

Nginep, mereka nginep, gunungnya sih nda tinggi, 2.650 mdpl kalo nda salah, tapi memang pengawasannya bagus. Dari ranger-nya pun baru pertama start itu memang sudah mewanti-wanti, “Sampahnya tolong nanti diperhatikan pas di lapangan (jalur pendakian maupun pos)”, juga pada saat malam ya itu dikontrol, “Tolong, jam 9, pada istirahat. besok mau puncak jangan sampai ngantuk”. Jadi sesama pendaki yang lain mesti respek. Cuma itu tadi, kalau pendaki sudah mau packing turun itu diawasi, jadi memang kesempatan untuk buang sampah sembarangan itu terminimalisir. Pengawasan yang utama, karena kalo saya yang langsung ke pendaki lain ini, kalau tidak diterima nanti bisa komplain, karena kita sesama pendaki. Saya pengennya yang punya wewenang, kayak ranger-nya itu, ya tampillah.

Tapi untuk Kerinci ini rangernya kurang atau gimana?

Jelas kurang. Ini kan luasnya hampir sejuta hektar,kurang dikitlah. Seluas itu cuma 120-an ranger-nya, ya nda ke-cover dan sekarang pun mereka lebih konsentrasi untuk masalah perambahan hutan, peladangan, itu nda main main. Jadi untuk yang pendakian itu sendiri memang ada Pak Dudu yang mengontrol dan itu sangat minim. Sebenarnya sih ingin ada kayak volunter ya..tapi kalo di Sumatera saya malah nda ketemu volunter, yang sukarela mau berpartisipasi untuk pengawasan pendakian.

Jadi komunitas yang concern ke masalah kebersihan lebih ke pelaku pendakian (basecamp, dan porter)?

Ya jadi ada beberapa homestay, nanti dia ini langsung mengurus sebuah perjalanan ke gunung dan sebagainya, besok mau kemana, ya udah kita siapin kalo dibutuhkan, baik pemandunya, porternya, dan sebagainya. Jadi kita lebih terorganisir ke sana, talinya dari atas situ (homestay/pemondokan). Itu hanya ada empat saja, dari Pak Subandi, Mbak Mak Jus, Saya sendiri dan Bu kasi (?). Ada beberapa yang lain cuma tetap muaranya ke empat ini.

Untuk guide/pemandunya ada berapa?

Tergantung, kita ada yang untuk internasional, yang bisa komunikasi dengan bahasa Inggris, tapi jumlahnya paling cuma 4-5 orang. itu sudah masuk HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia). Jadi kita dari Dinas Pariwisata Provinsi Jambi ada training. Sertifikasi sudah punya, bahkan untuk Kerinci sendiri, kemarin ada 32 pramuwisata yang ikut, alhamdulliah lulus semua. Cuma kebanyakan yang 80% itu lokal. Banyak terkendala di komunikasinya itu.

Dari segi alat, saya lihat pemandu di sini cukup lengkap terkait peralatan dan safety, apakah dulu sudah ada pelatihan khusus untuk pendakian?

Bagaimana mungkin kita menolong tamu/orang kalau kita sendiri belum selesai. Diri kita sendiri harus bener, kayak seragam kita, skill kita, kayak kalo tamunya pusing di ketinggian harus gimana, mual harus gimana kalau keseleo harus bagaimana. Teman-teman juga udah di-training seperti itu, jadi ada kode etik kepariwisataan yang coba diterapkan para pemandu. Intinya tamu baru keluar rumah sampai nanti masuk rumah kembali harus ditemani dan dijaga. Mungkin cuma ke kamar kecil ya nda ditemenin, selebihnya tanggung jawab kita.

Saya sendiri dari tahun 1999 sudah aktif, hampir 20 tahun sudah jadi pemandu. Sebelum pendakian selalu ada briefing, bagaimana peralatan, besok apa yang dilakukan…intinya itulah, keselamatan nomor satu. Jadi kita harus benar-benar profesional, jangan sembarangan kalau memandu tamu.

Adakah pesan-pesan untuk para pendaki khusununya yang naik ke Gunung Kerinci?

Jaga keselamatan nomor satu karena keluarga menunggu di rumah. Pendakian Ini kan hanya rekreasi, dan mudah-mudahan ketika melakukan pendakian Tuhan memberikan rejeki sehingga selamat sampai di puncak. Dan jangan lupa sampah dibawah turun.

Malam pun beranjak, aku mengakhiri perbincangan kami. Jam menunjukkan angka sembilan, semua kelompok pendakian pun sudah memasuk tenda masing-masing. Para pemandu kemudian berkumpul dan mulai mengobrol. Seperti biasa, aku cukup kesulitan untuk tidur awal ketika melakukan pendakian. Aku mulai mencuri dengar perbincangan para pemandu. Perbincangan yang menarik, membahas pemasalahan sampah di Kerinci. Terdengar salah satu dari mereke mengutarakan ide mengenai pengelolaan sampah. Setiap pos dibuatkan tungku pembakaran sampah, karena menurut mereka itu yang paling efektif. Bisa diperdebatkan memang, karena efektivitas tungku pembakaran tergantung dari desain tungku itu sendiri. Butuh rancangan tungku yang baik sehingga terjadi pembakaran yang baik (bila tidak memungkinkan mencapai pembakaran sempurnaa) untuk mengurangi residu dari sisa pembakaran. Belum lagi perihal zonasi kawasan, apakah kegiatan semacam itu diperbolehkan dan juga masalah operasional nantinya. Tetapi patut diapresiasi segala inisatif mereka, meluangkan waktu memikiran solusi dari pemasalahan sampah ini.

Esok hari, tepatnya pada saat dini hari, kami memulai summit attack. Cahaya headlamp yang menerangi jalan dengan mudah mengekspos sampah yang terbawa hujan di sepanjang jalur pendakian ini. Bahkan, cukup banyak jas hujan yang ditinggalkan begitu saja dan menjadi sampah. seberes memuncaki Kerinci, kami segera turun. Matahari yang sudah menampakkan diri membuka pemandangan yang tadi terlewat ketika kami naik. Sampah di sekitar shelter 3 terlihat jelas, tidak hanya satu dua titik, tetapi bertebaran hampir di segala penjuru dengan beberapa titik yang terlihat seperti tempat pembuangan sampah sementara. Ah.. Sampah memang menjadi persoalan klasik yang belum juga teratasi hingga sekarang. Jangankan mencari teknologi tepat guna yang dapat mengolah sampah dengan efisien dan tidak merugikan lingkungan sekitar, untuk tidak membuat sampah sembarangan saja kita belum tuntas. Mantra sakti “Semua kembali ke kesadaran masing-masing” sepertinya bukan lagi menjadi jawaban, perlu upaya yang lebih keras untuk mengatasi permasalahan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s