Kala Pandemi Menyerang

on

Tahun 2020 menjadi tahun yang sangat berbeda. Orang-orang dipaksa untuk melakukan rutinitas yang baru, the new normal, begitu istilahnya. Pembatasan fisik dan sosial dilakukan sehingga banyak kegiatan yang harus menemukan normal yang baru. Orang-orang tidak lagi bersalaman, sekolah dilakukan secara daring, bekerja tidak lagi harus dari kantor, cukup dari rumah saja, hingga tidak berpergian atau melakukan perjalanan. Berkurangnya rutinitas manusia di luar ruangan ini ternyata berdampak terhadap kehidupan alam liar. Di berbagai belahan dunia dijumpai fenomena hewan liar mulai muncul di area permukiman. Di Chile, puma terlihat berkeliaran di permukiman San Tiago ketika masa lockdown diterapkan di kota tersebut. Di Thailand, monyet memenuhi jalanan kota yang sepi manusia sedangkan di  Llandudno, sebuah kota di Wales, kambing gunung terlihat kembali di jalanan kota . Hewan-hewan liar tersebut terlihat menikmati suasana kota tanpa manusia tersebut. Namun tidak semua kabar penampakan hewan liar yang muncul ketika pandemi melanda dunia benar adanya.


Di Indonesia, fenomena ini terlihat di Taman Nasional (TN) Baluran. Sejak ditutup untuk kunjungan, terjadi perubahan bioritmik satwa penghuni TN Baluran. Pergerakan satwa terlihat semakin masif dan terlihat tidak takut untuk mendekati area kantor dan area sekitar jalan di sabana bekol. Rusa dan kerbau kini terihat bergerombol dalam jumlah yang besar, bahkan hingga ratusan di berbagai titik. Satwa seperti rusa, merak dan kera ekor panjang dapat mudah dijumpai di pinggir jalan yang berada di TN Baluran. Penutupan Taman Nasional Baluran ini nampaknya berdampak positif bagi kehidupan hewan liar di sana. 


Keberadaan manusia di alam liar mempengaruhi perilaku hewan liar. Hewan liar cenderung menjauhi manusia. Hal ini tentu menjadi tantangan di mana wisata alam bebas kini makin digandrungi terutama pendakian gunung. Meskipun dampaknya terhadap alam liar tidak semasif perambahan lahan atau pemburuan liar, namun tetap saja harus menjadi perhatian.  Ada kecenderungan upaya pembatasan pengunjung terutama di jalur pendakian gunung yang masuk kawasan Taman Nasional, namun untuk gunung-gunung di luar Taman Nasional masih menjadi tantangan tersendiri untuk diterapkan. Hal ini terkait dengan potensi ekonomi yang didapat dari kegiatan pendakian gunung. Bermunculan jalur-jalur baru di gunung yang memang sudah cukup ramai pengunjung seperti Sumbing dan Sindoro. Hal ini bila dilihat dari sisi konservasi tentu tidak baik. 
Jalur pendakian dapat menyebabkan fragmentasi habitat. Fragmentasi habitat adalah peristiwa yang menyebabkan habitat yang luas dan berkelanjutan diperkecil atau dibagi menjadi dua atau lebih fragmen. Fragmen-fragmen yang terjadi adakalanya terisolasi satu dengan yang lainnya oleh daerah yang terdegradasi. Fragmentasi habitat dapat memperkecil potensi suatu spesies untuk menyebar dan berkolonisasi.  Fragmentasi yang ditimbulkan jalur pendakian memang dampaknya tidak sebesar yang ditimbulkan oleh jalan raya. Namun dengan semakin banyaknya jalur pendakian di suatu gunung, maka semakin banyak fragmentasi habitat yang terjadi.

Fragmentasi habitat.

Fenomena hewan liar pada masa pandemi terutama di taman nasional baluran menunjukkan keberadaan manusia mempengaruhi zona jelajah hewan liar. Aktivitas pendaki  juga dapat membawa hewan parasit atau flora invasif. Berdasarkan penelitian Profil Mamalia Kecil Gunung Slamet Jawa tengah oleh Maharadatumkamsi (2011), jalur pendakian turut berandil dalam penyebaran tikus rumah (R. tanezumi) dan mengancam keberadaan tikus hutan yang khas endemik jawa seperti tikus Maxomys bartelsii dan Niviventer lepturus.

Adanya pandemi menyebabkan penutupan jalur pendakian di berbagai gunung. Menilik dampak yang  terjadi di TN Baluran, tentu harapan yang sama hal itu terjadi juga di gunung-gunung yang lain. Biarlah alam liar kembali kepada perilaku aslinya, dan mungkin saja setelah pandemi ini selesai, ada normal yang baru dalam hal berkegiatan di alam bebas, yang lebih ramah terhadap kehidupan alam liar.  Mengutip pernyataan peneliti yang tergabung di The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Service Seperti halnya perubahan iklim dan berkurangnya kenakekaragaman hayati, pandemi saat ini adalah konsekuensi dari aktivitas manusia dengan paradigmanya sebatas laju ekonomi di atas segalanya, dengan cara apapun. Saatnya paradigma wisata alam bebas juga mengalami perubahan, tidak hanya untuk mengejar laju pertumbuhan ekonomi atau validasi eksistensi diri tetapi juga menghormati alam liar itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s