Kilas Balik Latihan Dasar Angkatan X Sispala Bhuana Yasa


Pada umumnya suatu organisasi pencinta alam memiliki pendidikan/latihan dasar sebagai tahapan untuk menjadi anggota tetap. Sispala Bhuana Yasa (BY), sebagai organisasi pencinta alam di  SMAN 4 Denpasar juga memiliki latihan dasar sebagai tahapan dalam penerimaan anggota. Jenjang status keanggotaan BY pada saat itu, tahun 2000, adalah Pra Calon Anggota (Pra CA) —> kegiatan lintas alam –> Calon Anggota (CA) —> Pra Latdas (Latdas materi kelas) —> Latihan Dasar (materi lapangan) —> Anggota Muda (AM)—> Masa Bakti —->Pelantikan Anggota. 


Ekstrakurikuler yang dilaksanakan setiap hari Sabtu dengan durasi hampir 3 jam itu, kurang lebihnya diawali dengan latihan fisik, kemudian materi kelas, dan dilanjutkan materi di luar kelas, biasanya praktek.  Itu berlangsung selama 2 catur wulan (dahulu belum memakai sistem semester) atau delapan bulan. Untungnya, ada semacam praktek lapangan dengan durasi satu hari penuh yang dilaksanakan pada hari minggu. Kami menyebutnya Lintas Alam.  Ujian terakhir adalah Latihan Dasar (Latdas) Lapangan selama enam hari lima malam di Pondok Pemuda Jimbaran.  
Berikut adalah gambaran latihan dasar angkatan X Sispala Bhuana Yasa sejauh yang saya ingat pada tahun 2000.

Sebagian dari Angkatan IX dan Angkatan X dan Bapak Pembina Sispala Bhuana Yasa, Bapak Pujiharsa

PERSIAPAN


Saat Latdas akan diselenggarakan, tinggal 17 siswa/CA tersisa. Panitia membagi kami menjadi 4 regu dan persiapan Latdas dilakukan secara kelompok. Aku lupa reguku nomor berapa saat itu, tapi reguku terdiri dari aku, Susanta, Sochib (Oche), dan Gek An. Persiapan dilakukan, mulai dari persiapan alat pribadi hingga persiapan alat kelompok. 


Selama persiapan, aku sedikit khawatir dengan ukuran ranselku yang hanya sekitar 35 liter. Ukuran tersebut tidak dapat memuat seluruh barang bawaan untuk Latdas. Matras harus ditaruh di luar ransel agar tidak mengurangi volume tas. Hal ini tentu bertentangan dengan arahan senior di mana dalam packing, seluruh barang harus berada di dalam ransel. Akhirnya, sesaat sebelum keberangkatan dan pemeriksaan barang, aku mulai pendekatan dengan senior yang masuk dalam kategori tidak terlalu kejam. Masalah ransel tersebut kuutarakan ke Taufik “Superboy” dan Puji Tuhan dimaklumi juga karena ranselnya kecil. 


Sebelum berangkat pun sudah ada drama, di mana Dewa “Abon”, salah satu CA, berencana untuk mundur dari Latdas karena tidak mendapat pinjaman ransel. Saat itu ransel masih cukup langka, jarang yang punya. 16 peserta CA sudah berkumpul di sekolah, kurang 1 peserta lagi. Setelah melakukan diskusi dengan panitia, beberapa CA bergegas menjemput Dewa ke rumahnya dengan membawa ransel dan mempersiapkan barang-barang cara keroyokan. Untung saja rumah Dewa masih satu komplek dengan sekolah. Akhirnya 17 siswa pun berangkat tanpa ada yang mundur.  Aku sudah lupa, darimana Dewa mendapat pinjaman tas, sepertinya dari salah satu senior kami.


LOKASI


Lokasi Latdas angkatan X berada di Pondok  Pemuda, Jimbaran, Kuta Selatan. Lokasi ini sudah digunakan beberapa kali oleh Sispala Bhuana Yasa.  Disebut pondok pemuda karena dahulu terdapat sebuah bangunan bale/pendopo yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan masyarakat. Saat Latdas X dilaksanakan, pondok tersebut sudah berupa puing-puing. Kawasan Jimbaran, Kuta selatan lebih dikenal sebagai daerah Bukit karena sebagian besar wilayahnya berupa perbukitan kapur dengan geomorfologi Karts. Keseluruhan sungai yang ada di wilayah Bukit merupakan sungai Periodik yang hanya berair pada saat hujan dan hanya pada saat penghujan terjadi proses pengisian air tanah. Di area pondok pemuda terdapat muara sungai yang bermuara di Pantai Bene, namun sekarang lebih dikenal sebagai Pantai Mimpi Pondok Pemuda. Berhubung kegiatan kami dilakukan di bulan Februari, sungai tersebut memiliki aliran air yang cukup besar. Di tepi sungai terdapat tebing yang digunakan untuk latihan memanjat. Tebing dengan ketinggian mencapai 15-20 meter ini memiliki jenis batuan kapur atau limestone. Daerah bukit dikenal sebagai daerah yang panas. Hal itu kami buktikan ketika menginjakkan kaki pertama kali di Pondok Pemuda. saat itu, langit biru terbuka tanpa cela. Kami pun disuruh untuk berjalan jongkok oleh panitia menuju lapangan sambil membawa ransel. Sebuah ucapan selamat datang yang sangat berkesan. Butir-butir keringat sebesar jagung pun bercucuran. Sangat panas, hingga saking panasnya, muncul niatan untuk mundur dari Latdas jika cuaca seperti ini terus.

Kegiatan Latdas umumnya berada di tiga lokasi, yaitu lapangan atas, lapangan bawah, dan area pantai dan muara. Lapangan Atas biasa digunakan untuk kegiatan upacara, apel pagi dan olahraga. Lapangan bawah  sebenarnya hanya lahan yang tak seberapa luas di antara semak dan pepohonan serta terdapat pohon bekul di tengahnya. Di lapangan bawah ini dilakukan kegiatan survival, pruisik dan rayap. Area pantai dan sungai biasa digunakan untuk kegiatan olahraga sore dan panjat tebing. Jarak area camp hingga pantai sekitar 350 m dan  jarak elevasi titik terbawah dan tertinggi sekitar 40 meter. Kondisi saat itu masih sepi, belum terbangun villa atau dermaga/deck pada area pantai. Panitia pun sudah mewanti-wanti agar jangan aneh -aneh karena kawasan ini termasuk angker.

SENIOR


Senior Sispala pada masa itu secara umum dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu golongan pembantai, golongan antara setengah dewa, atau malaikat penolong.  Senior malaikat penolong adalah senior yang tenang, jarang marah, dan irit memberikan seri kepada calon anggota yang berbuat kesalahan. Ini adalah tipe senior idaman, target utama pelaporan kegiatan. Tingkat yang kedua adalah golongan antara, senior yang bisa tenang namun bisa juga keras dalam taraf yang wajar. Yang terakhir, adalah golongan pembantai. Butuh persiapan mental dan fisik bertemu senior-senior ini. Zaman itu adalah zaman ketika masih ringan kaki tangan, ketika kita berbuat kesalahan, tangan dan kaki senior golongan pembantai dapat melayang tiba- tiba, terkesan sangat ringan.
Senior yang memegang kegiatan/panitia adalah senior satu tingkat di atas kami. Senior dua tingkat di atas kami hanya jadi semacam pasukan penggembira (gembira di mereka merana di kami).

CAMP


Area camp terletak paling atas/selatan dari tempat Latdas. Camp dibagi menjadi dua, yaitu area camp panitia dan area camp peserta. Area camp panitia berada menyatu dengan area lapangan. Di area ini biasanya dibangun satu tenda komando, tenda dapur, dan tenda untuk tamu.
Area camp peserta berada tak jauh dari area camp panitia. Area camp berupa tegalan yang dibatasi oleh pagar tanaman. Lokasi tenda kelompokku berada di area paling selatan. Apabila hujan, tidak akan ada genangan karena akan segera  mengalir ke tempat yang lebih rendah. Tenda yang kami dirikan adalah tenda terpal, didirikan dengan 2 tongkat pramuka dan beralaskan matras. Cukup sederhana dan hanya digunakan untuk beristirahat siang (masak dan makan siang) dan malam hari. 

Baju untuk kegiatan seingatku ada tiga, baju putih, baju olahraga dan baju Latdas. Sedangkan celana tetap celana panjang hitam. Menu harian kami tak dapat kuingat dengan jelas, yang pasti ada mie,telur dan nasi, sedangkan tambahannya aku sudah lupa (ntah kering tempe atau abon ayam). Saat itu kami tidak boleh membawa makanan dari daging sapi. Kami memasak dengan menggunakan nesting TNI dan kompor spritus, kompor tahan banting yang harus diimbangi dengan tahan aroma makanan yang menjadi mirip aroma spritus. 
Kejadian yang tidak akan aku lupa di area camp ini adalah kejadian “lampu badai”. Suatu sore, dalam suasana yang santai, senior bertanya kenapa lampu badainya belum dinyalakan. Aku jawab dengan nada bercanda, “belum kak, kan belum ada badai, hehe”, di samping memang kondisinya memang masih terang. Namun,  kurang dari semenit, tiba-tiba angin berhembus kencang…sangat kencang malah hingga tenda kelompok tetangga (aku lupa tenda milik siapa) tersingkap dan terbang. Tak seberapa lama angin pun reda, dan suasana kembali tenang. Kontan saja senior datang sambil bertanya dengan nada yang agak keras “Siapa tadi yang minta-minta badai?!”. hah, salah ngomong nih, bercanda tidak pada tempatnya. Hal lain yang aku ingat adalah ketika tengah malam yang disertai hujan deras, aku dan oche terbangun. Beberapa patok tenda kami lepas, dan air membanjiri bagian dalam tenda..atau setidaknya tempat kami berdua tidur. Akhirnya salah satu dari kami keluar, untuk membenarkan tenda daripada air yang mengalir membesar menjadi sungai. Pada saat mendirikan tenda di tengah terik , kami tidak memikirkan sistem drainase sebagai antisipasi hujan deras. Akibatnya ada “sungai” yang melintas di dalam tenda kami.  

MATERI DAN KEGIATAN


Urutan kegiatan Latdas sudah tak lagi aku inget. Materi seperti turun bukit, merayap, pruisiking didampingi oleh panitia. Sedangkan panjat tebing dan ESAR diberikan oleh Basarnas.
Hari-hari latihan dasar dibuka dengan olahraga rutin di pagi hari saat matahari masih bersembunyi. Lari sambil terkantuk-kantuk adalah hal yang biasa. Begitu pula apabila ada materi malam. Menaruh perhatian penuh kepada senior pemateri (kalau tidak salah saat itu adalah kak Rani, senior BY saat itu tergabung dalam Mapala WD, saya lupa materinya apa) adalah hal yang penuh perjuangan. Belum lagi suara genset yang membuat pengajar tidak terdengar jelas. Pada dasarnya Latdas adalah materi lapangan/materi praktek, karena sebelum Latdas kami rutin diberi materi kelas setiap minggunya dengan penerapan melalui lintas alam. Namun, materi tersebut memang tidak memadai. Baik dari substansi maupun ketepatan materi. 
Dilatih oleh tim Basarnas sama menegangkannya dengan dilatih senior, kakak-kakak tim SAR sangat tegas, terutama terkait peralatan. Menginjak tali, dipastikan akan mendapat bonut set. Menjatuhkan alat, mendapat  bonus set. Terlalu lelet, mendapat bonus set. Belum lagi kalimat-kalimat “motivasi” ketika kita sedang melaksanakan kegiatan panjat tebing. kalimat-kalimat yang cukup melatih mental.
Bonus set ini hampir saja aku dapatkan ketika kegiatan rappeling. Saat hendak rappeling di tebing, figure of eight tak sengaja kujatuhkan, tak ayal mas Basarnas bertanya, “apa itu?!?”, dengan tatapan dan sorot mata yang tajam. Meski kondisi fisik sudah lelah, untung saja otak masih bisa diajak berpikir cepat. “Maaf kak, figure terbentur pohon”, jawab aku berbohong. Untung saja alasan itu diterima. Aman sudah dari set-set hukuman yang menguras tenaga.   
Materi lain yang diajarkan oleh Basarnas adalah materis Evacuation, Search And Rescue (ESAR). Kami melakukan simulasi mencari rekan kami yang hilang di hutan dan tentu saja dengan sedikit bumbu tambahan. Para CA laki-laki diharuskan membuka baju saat melakukan ESAR. Ya, melakukan ESAR di antara semak berduri memang mengasikkan. Keluar dari area ESAR, tubuh pun penuh luka gores.
Materi lainnya senior yang saat itu kurang berfaedah adalah materi survival. Kami hanya dibiarkan mencari makanan sendiri dari siang hingga malam, tetapi tidak dijelaskan apa saja yang bisa dimakan hingga akhir kegiatan. Menu saat itu hanya buah bekul dan bekicot, yang diberi bumbu mie selundupan yang dibawa oleh Betet. Benar-benar hanya fomalitas, makan bekicot biar menggugurkan tugas saja, tidak mengenyangkan perut.


Setiap materi selalu ada set yang ditambahkan. Satu set terdiri dari 10 push up dan 10 sit. Sedikit beruntung sejak malam pertama, hujan selalu mengguyur sehingga kami tidak kepanasan dan kehausan. Namun tetap saja, fisik terkuras dengan berbagai macam kegiatan dan hukuman set yang terakumulasi dan dianggap sebagai utang. Mungkin kalau utang set selama Latdas ini diaudit, satu angkatan terancam bangkrut dan dilikuidasi. Ada semacam bonus tak terduga untuk peserta dimana suatu kegiatan yang sudah dijadwalkan tiba-tiba dibatalkan, salah satunya karena ada peserta yang sakit. Memang, terlihat seperti bersukaria di atas penderitaan, tapi percayalah, jasanya sangat berarti :D. salah satu kejadiannya adalah ketika ada permainan kejar tangkap, tiba tiba saja Gek An mengalami gejala seperti asma. Dengan sigapnya betet berteriak minta tolong ke panitia dan kegiatan pun batal. Kami pun terbebas dari kewajiban lari naik turun jalur yang melelahkan.
Kejadian pembatalan kegiatan yang tergolong lucu adalah saat akan melakukan jurit malam, CA dikumpulkan di lapangan utama pada tengah malam. Senior berdiri di depan, dan mulai menaikkan suasana. Namun kali ini ada yang beda, ada senior terdengar sedikit meracau, bahkan antar senior saling bantah. Tanpa ada kejelasan, kami disuruh kembali lagi ke tenda untuk istirahat. Belakangan baru kami tahu, kala ini ada senior yang sedikit “tinggi” aka mabuk… haha. ini semacam bonus bagi CA, kegiatan jurit malam tidak ada, waktu istirahat pun bertambah panjang.  
Kegiatan penutup adalah longmarch menuju sekolah. Jarak pondok pemuda ke sekolah sekitar 18,5 km, jarak yang cukup lumayan untuk ditempuh setelah berkegiatan 6 hari 1 malam. Untung saja CA tidak diwajibkan untuk membawa ransel. Kami hanya membawa tongkat dan ponco saja, sedangkan untuk air minum hanya dijatah oleh panitia ketika istirahat. Dan kembali, hujan masih bersahabat dengan kami, sehingga hampir sepanjang perjalanan hujan menyirami kami, sehingga longmarch ini kami lalui tanpa harus kehausan. Kalau mau minum, tinggal menghadap langit saja. Salah satu kejadian yang masih terngiang adalah peristiwa jambu air. Hujan memang dapat menahan haus, tapi tidak dengan lapar. Hampir seminggu tidak mendapat asupan makanan yang menggugah selera membuat kami ingin segera menikmati makanan selain makanan rutin yang kami masak. karena itu, ketika melintasi pohon jambu air, kami pun bersiasat untuk mencuri jambu air yang menjuntai di tepi jalan. Mustika, sejauh ingatanku, segera menjalankan tugasnya, melompat dan meraih beberapa jambu air. Jambu air sudah ditangan dan segera didistribusikan ke CA yang lain. Sesampai di tangan Pam, ia pun mencicipi buah jambu itu. “Ah masih mentah”, lalu melempar jambu itu. Aku dan Mustika hanya terpana melihatnya…susah susah ngambil, dibuang begitu saja…….


Ya, begitulah sekilas gambaran latihan dasar Angkatan X Sispala Bhuana Yasa. Masih banyak sebenarnya peristiwa-peritiwa yang sudah mulai terlupakan atau tidak lulus sensor untuk diceritakan :D. Kini baik kegiatan dan lokasi kegiatan sudah berubah sama sekali. Tahun 2019 tidak ada Latdas di luar sekolah dan pondok pemuda pun sudah menjadi resort dengan pantainya yang dikenal sebagai Pantai Mimpi …suatu pantai tempat kami berusaha meraih mimpi…mimpi untuk menjadi seorang pencinta alam.

TETAP YANG TERBAIK!!!!!!! BHUANA YASA!!!!